Budaya Jepang di Mata Cetta, dan Pengaruhnya untuk Subkultur Indonesia

ketertarikan akan keunikan anime membuat minat masyarakat untuk belajar bahasa Jepang ikut terpengaruh.

CETTA Budaya populer maupun tradisional bangsa Jepang telah meng-influence banyak orang di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Hal ini pun diakui salah satu pengajar di Cetta Japanese, baginya pengaruh budaya Jepang sangat besar bagi subkultur Indonesia.

“Di mata Cetta, budaya Jepang itu benar-benar berpengaruh jauh banget, sebesar itu buat subkultur Indonesia,” ujar Dwina Yuliatama, salah satu sensei di Cetta Japanese, dalam wawancara eksklusif.

Sensei Erika Bocorkan Alasan Pilih Cetta Japanese dalam Belajar Bahasa Jepang

“Kalau misalkan kita lihat ya, Indonesia kan dekat banget sama Jepang. Hubungan diplomasi Indonesia sama Jepang juga kuat. Jadi kalau dari pengaruh budaya tuh dia (Jepang) bisa pengaruh ke banyak hal,” papar Dije, sapaan akrabnya.

Sejak penandatanganan Perjanjian Perdamaian Jepang-RI pada 1958, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang memang terbilang semakin erat dan saling menguntungkan.

Kedekatan Indonesia-Jepang ini tak terlepas dari kesamaan dalam nilai-nilai ketimuran. Apalagi, Jepang juga termasuk negara adidaya yang disegani di kawasan Asia.

Sementara Indonesia dikenal sebagai bangsa memegang teguh sisi toleransi dengan hadirnya perbedaan sehingga lebih mudah dalam menerima budaya asing, terutama yang kental seperti Jepang.

Akibat pengaruh besar tadi, sambung Dije, budaya Jepang yang memiliki ciri khas tertentu juga menciptakan banyak subkultur unik di Indonesia. Salah satu yang paling kentara adalah kehadiran kartun animasi (anime) yang berasal dari pop culture.


“Banyak banget orang yang suka nonton anime kan awalnya dari TV Indonesia yang suka nayangin anime pakai dubber Indonesia. Lama-kelamaan meluas ke web streaming dan aplikasi streaming lainnya,” terang jebolan Sastra Jepang Universitas Indonesia tersebut.

Dari ketertarikan akan keunikan anime tadi, lanjut dia, membuat minat masyarakat untuk belajar bahasa Jepang ikut terpengaruh. Hal serupa juga tampak pada bidang wisata dan kuliner.

Menurut Dije, kini ada banyak tempat di Indonesia yang menerapkan konsep Jejepangan–sebutan untuk menggambarkan segala hal terkait subkultur Jepang.

Di bidang wisata, “Contohnya kayak Onsen Resort di Kota Batu, terus Floating Kyotoku di Lembang Bandung, Little Tokyo di Blok M Jaksel, dan masih banyak lagi,” katanya.

“Kalau yang kuliner lebih banyak lagi. Kita bisa ngambil contoh yang benar-benar mencolok. Banyak banget restoran Jepangan semacam Izakaya di satu tempat yang bernama Little Tokyo, dan sampai seterkenal itu. Masakan Jepang dari segi halal maupun non halal,” tambahnya.

Kendati demikian, Dije mengaku bahwa sepanjang pengalamannya, Cetta belum pernah melihat atau menemukan komunitas “aneh” terkait budaya Jepang.

Alih-alih “aneh”, ia justru mengapresiasi berbagai komunitas Jepang semisal Kusatsu yang menunjukkan totalitas hingga bersedia membeli kostum.

“Aku lebih suka bilang eksentrik, nyentrik,” ujarnya.

“Misalkan kita lihat komunitas kaya cosplay-cosplay, terus juga komunitas yang suka ada di festival Jepang, jadi mereka datang buat cosplay, saling memperagakan action. Itu menurut aku eksentrik. Menarik,” tutup Dije.

Bagikan Artikel ini:

Artikel Lainnya

Isi Data Diri Dulu, Yuk!
Cetta Akan Kirimkan Kode Promonya ke Emailmu