Suasana Imlek udah berasa banget nih, mulai dari wangi dupa yang khas sampai tumpukan angpao merah yang bikin mata seger. Tapi di balik semua kemeriahan itu, ada sisi “ngeri-ngeri sedap” soal berbagai pantangan yang pantang banget dilanggar kalau kamu mau hoki sepanjang tahun.
Mau dapet hoki melimpah di tahun Kuda Api 2026 ini? Jangan sampai niatmu cari cuan malah terhambat cuma gara-gara kamu nggak sengaja melanggar mitos kuno yang masih dipercaya sampai sekarang! Artikel ini bakal bedah tuntas 14 mitos yang wajib kamu tau biar rejekimu nggak kabur.
Kenapa Sih Mitos Imlek Masih Dipercaya Sampai Sekarang?
Mungkin kamu sering mikir kalau mitos-mitos ini cuma sekadar “cerita lama” yang nggak masuk akal buat anak zaman sekarang. Padahal, kalau ditarik ke belakang, mitos ini sebenernya bentuk doa dan harapan orang tua agar kita lebih berhati-hati melangkah di awal tahun yang baru.
Tradisi ini tetap awet karena nilai filosofisnya yang kuat soal menghargai waktu dan keberuntungan. Biar makin paham kenapa tradisi ini mengakar kuat, nggak ada salahnya kamu intip juga sejarah Imlek dan tradisi Tahun Baru China di Indonesia biar momen kumpul keluarga besok makin bermakna.
Daftar 14 Mitos dan Pantangan Imlek Paling Ikonik
Melakukan larangan-larangan ketika imlek dipercaya bisa bikin keberuntunganmu “terhambat” atau bahkan hilang sama sekali selama satu tahun ke depan. Makanya, daripada kena omel atau merasa was-was sendiri, mending kita cari aman dengan mengikuti tradisinya dengan asik.
Yuk, kita bedah satu per satu mitos yang paling sering bikin kita kena omel kakek-nenek pas hari pertama Imlek!
1. Larangan Menyapu dan Membuang Sampah
Tradisi ini berakar dari kepercayaan bahwa hari pertama Imlek adalah waktu di mana keberuntungan mengendap di lantai rumah sebagai “debu emas”. Debu yang terkumpul dianggap sebagai berkah yang turun dari langit untuk memberkati seluruh penghuni rumah tersebut.
Oleh karena itu, aktivitas menyapu dianggap secara simbolis dapat mengusir energi positif tersebut keluar dari ambang pintu. Sebagai solusinya, masyarakat Tionghoa biasanya melakukan pembersihan total sehari sebelum perayaan agar rumah tetap bersih tanpa melanggar nilai tradisi yang ada.
2. Pantangan Keramas dan Potong Rambut
Secara linguistik, kata rambut dalam bahasa Mandarin adalah 头发 (tóufa) yang menggunakan karakter 发 (fà). Menariknya, karakter tersebut sama persis dengan yang digunakan dalam kata 发财 (fācái) yang memiliki arti menjadi kaya, makmur, atau mendapatkan rezeki nomplok.
Meskipun nada pengucapannya sedikit berbeda, kesamaan visual dan bunyi ini menciptakan filosofi bahwa mencuci atau memotong rambut berarti membuang peluang hoki. Itulah sebabnya banyak salon di kawasan pecinan akan sangat penuh sebelum malam pergantian tahun demi menjaga integritas simbolis “awal yang utuh” di tahun baru.
3. Jangan Makan Bubur di Hari Pertama
Secara historis, bubur sering kali diasosiasikan sebagai makanan bagi masyarakat kelas bawah yang tidak mampu membeli beras dalam jumlah cukup. Menyajikan bubur saat sarapan Imlek dianggap secara simbolis merepresentasikan kondisi kekurangan atau kemiskinan di masa lalu.
Untuk menghindari simbolisme tersebut, masyarakat lebih memilih menyajikan nasi atau mie yang melambangkan kemakmuran dan panjang umur. Hal ini mencerminkan optimisme masyarakat untuk memulai tahun dengan standar hidup yang lebih baik dan penuh kebercukupan.
4. Hindari Memakai Baju Hitam atau Putih
Dalam psikologi warna masyarakat Tionghoa, merah melambangkan elemen api yang dipercaya dapat mengusir energi negatif dan nasib buruk. Penggunaan warna merah yang dominan bertujuan untuk menciptakan atmosfer yang penuh vitalitas dan semangat baru di hari pertama.
Sebaliknya, warna hitam dan putih secara tradisional sangat erat kaitannya dengan upacara pemakaman atau masa berkabung. Menghindari kedua warna ini adalah cara masyarakat untuk menjaga jarak dari simbolisme duka selama hari-hari yang dianggap penuh suka cita.
Pas lagi kumpul keluarga besar nanti, jangan sampai kamu cuma diem aja di pojokan karena bingung mau nanya apa. Biar makin akrab sama om dan tante, jangan lupa pelajari cara nanya apa kabar dalam bahasa Mandarin yang bener biar makin disayang!
5. Dilarang Mencuci Baju
Dua hari pertama Imlek secara tradisional diperingati sebagai hari lahirnya Shuishen atau Dewa Air dalam mitologi Tionghoa. Aktivitas mencuci baju dianggap dapat mengganggu atau menyinggung keberadaan elemen air yang sedang dirayakan pada periode tersebut.
Larangan ini juga memberikan waktu istirahat bagi para anggota keluarga dari rutinitas pekerjaan rumah tangga yang berat di awal tahun. Dengan menghentikan aktivitas mencuci, fokus keluarga diharapkan bisa sepenuhnya tercurah pada momen kebersamaan dan silaturahmi.
6. Hindari Menggunakan Benda Tajam
Benda tajam seperti gunting dan pisau dalam filosofi Tionghoa sering disimbolkan sebagai alat yang dapat memutus hubungan atau keberuntungan. Larangan penggunaannya bertujuan untuk meminimalisir risiko terjadinya konflik atau perpecahan antaranggota keluarga di awal tahun.
Masyarakat biasanya telah menyiapkan semua keperluan dapur jauh-jauh hari agar penggunaan pisau tidak diperlukan saat hari-H. Hal ini dilakukan demi menjaga kedamaian dan keutuhan hubungan yang dianggap sangat sakral dalam perayaan tahun baru.
7. Jangan Menagih Utang
Aktivitas menagih utang dianggap dapat merusak keharmonisan sosial dan membawa tekanan psikologis bagi kedua belah pihak di hari yang penuh kegembiraan. Memberikan kelonggaran waktu adalah bentuk penghormatan terhadap hak orang lain untuk merayakan Imlek dengan tenang.
Kepercayaan ini juga didasari pada prinsip bahwa cara seseorang memulai tahun dalam hal finansial akan menentukan arus kas mereka sepanjang tahun. Dengan tidak menagih hutang, diharapkan hubungan bisnis dan personal tetap terjaga dengan baik tanpa ada ganjalan emosional.
8. Hindari Barang Pecah Belah
Suara barang pecah belah dipercaya menyerupai suara retakan yang menyimbolkan ketidakutuhan nasib atau kerenggangan dalam hubungan keluarga. Masyarakat sangat berhati-hati dalam mengelola perabotan agar suasana rumah tetap tenang dan bebas dari insiden yang dianggap sebagai pertanda buruk.
Jika terjadi insiden pecahnya piring, masyarakat biasanya akan mengucapkan frasa “Sui sui ping an” untuk menetralisir keadaan. Frasa ini memanfaatkan permainan kata di mana kata “pecah” terdengar mirip dengan kata “usia/tahun”, yang diubah maknanya menjadi doa keselamatan.
9. Memberi Angpao Harus Jumlah Genap
Dalam budaya Tionghoa, terdapat prinsip 双 (shuāng) yang berarti sepasang atau ganda, yang melambangkan kebahagiaan yang lengkap dan seimbang. Memberi angpao dalam jumlah genap adalah simbol doa agar si penerima mendapatkan keberuntungan yang berlipat ganda, sedangkan angka ganjil 单 (dān) justru dihindari karena identik dengan uang duka atau sumbangan kematian.
Namun, aturan “genap” ini punya pengecualian besar pada angka 四 (sì) atau angka 4. Meski secara matematis genap, angka 4 sangat dihindari karena pelafalannya terdengar identik dengan kata 死 (sǐ) yang berarti “mati”, sehingga dianggap bisa merusak kesucian doa yang ada di dalam angpao tersebut.
Sebagai gantinya, orang biasanya memilih angka genap lain yang punya makna linguistik positif seperti 六 (liù) untuk kelancaran atau 八 (bā) untuk kemakmuran. Dengan memilih angka genap yang tepat, kamu nggak cuma mengikuti tradisi keseimbangan, tapi juga menyisipkan kode-kode hoki yang bikin si penerima makin senang!
10. Jangan Tidur Siang
Mitos “jangan tidur siang” memiliki nilai edukasi untuk mendorong kedisiplinan dan semangat kerja keras sejak hari pertama di tahun yang baru. Tidur siang dianggap sebagai representasi dari sifat malas yang dikhawatirkan akan memengaruhi produktivitas seseorang sepanjang satu tahun ke depan.
Tujuan utamanya adalah agar setiap orang tetap terjaga untuk menyambut setiap tamu dan peluang yang mungkin datang berkunjung. Menjaga energi tetap tinggi dianggap sebagai langkah awal yang krusial untuk mencapai kesuksesan di bulan-bulan berikutnya.
11. Dilarang Berkata Kasar atau Caci Maki
Masyarakat Tionghoa sangat mempercayai kekuatan kata-kata sebagai doa yang bisa bermanifestasi menjadi kenyataan di masa depan. Oleh karena itu, kata-kata yang bermakna negatif seperti kematian, kemiskinan, atau penyakit sangat dilarang untuk diucapkan saat Imlek.
Menjaga lisan juga bertujuan untuk mempererat ikatan kekeluargaan dan menghindari konflik yang bisa merusak suasana hari raya. Dengan hanya mengucapkan kata-kata positif, diharapkan energi baik akan terus mengitari kehidupan penghuni rumah sepanjang tahun.
12. Pintu dan Jendela Harus Dibuka Lebar
Membuka akses pintu dan jendela bertujuan untuk memfasilitasi sirkulasi udara atau “Qi” (energi kehidupan) agar dapat masuk memenuhi rumah. Secara simbolis, rumah yang terbuka menunjukkan kesiapan pemiliknya untuk menerima segala bentuk keberuntungan dan berkah yang datang.
Aktivitas ini juga menjadi tanda keramahan pemilik rumah dalam menyambut kerabat dan tetangga yang ingin bersilaturahmi. Rumah yang terang dan terbuka dianggap memiliki daya tarik yang lebih kuat untuk mengundang hal-hal positif mampir ke dalamnya.
13. Jangan Menangis
Menangis di hari pertama Imlek dianggap akan menetapkan suasana hati yang penuh kesedihan untuk sisa tahun tersebut. Orang tua secara tradisional menghindari menghukum anak-anak agar lingkungan rumah tetap harmonis dan penuh tawa sebagai simbol awal yang baik.
Suasana damai ini juga sering dimanfaatkan untuk merencanakan resolusi tahun baru biar makin semangat. Biar referensimu makin luas, kamu wajib tahu gimana cara orang China rayakan tahun baru Masehi yang punya tradisi unik dan berbeda dari perayaan Imlek!
14. Hindari Minum Obat
Kecuali untuk kondisi medis yang bersifat rutin dan mendesak, mengonsumsi obat di hari pertama Imlek dianggap secara simbolis membawa nasib kesehatan yang buruk. Mitos ini merupakan bentuk harapan agar seseorang selalu dalam kondisi fisik yang prima tanpa perlu bergantung pada obat-obatan.
Persiapan fisik yang matang sebelum Imlek menjadi sangat penting agar setiap orang bisa merayakan hari raya dengan kondisi tubuh yang bugar. Fokusnya adalah memulai tahun dengan kekuatan penuh agar segala rencana dan ambisi dapat tercapai dengan kesehatan yang maksimal.
Bagaimana Cara Menanggapi Mitos di Era Modern?
Secara sosiologis, gesekan antara logika modern dan mitos tradisional biasanya terjadi karena adanya perbedaan cara pandang terhadap risiko. Bagi generasi senior seperti mama dan papa mu, mematuhi pantangan adalah bentuk risk management budaya untuk menjaga harmoni, sementara bagi generasi muda seperti kita, hal ini sering kali dianggap sebagai inefisiensi yang tidak memiliki dasar fungsional.
Menghadapi situasi ini tidak harus berujung pada konfrontasi argumen yang kaku di meja makan. Cara yang lebih efektif adalah dengan melakukan pembedahan makna, memahami bahwa di balik larangan tersebut ada niat protektif, sehingga kamu bisa tetap menghormati tradisi tanpa harus merasa terbebani secara intelektual.
Mau Jago Mandarin & Paham Budayanya? Join Kelas Cetta Mandarin Sekarang!
Memahami filosofi di balik mitos Imlek hanyalah langkah awal untuk benar-benar mendalami kekayaan budaya Tiongkok. Jika kamu ingin berhenti sekadar “ikut-ikutan” dan mulai memahami logika bahasa secara mendalam, sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai perjalanan akademismu dari dasar yang paling kokoh.
Di kelas Chuji Shang (初级上) Cetta, kamu akan dibimbing untuk menguasai standar HSK 1 yang sangat krusial bagi pemula. Berikut adalah beberapa keunggulan yang akan kamu dapatkan di kelas ini:
- Kurikulum Standar HSK 1: Materi disusun secara sistematis agar kamu bisa menguasai dasar Mandarin untuk kebutuhan komunikasi harian secara efektif.
- Interaksi Langsung dengan Tutor: Fokus pada praktik pengucapan (pinyin) dan nada yang tepat agar kamu tidak hanya sekadar hafal kosakata, tapi juga berani bicara.
- Komunitas Belajar yang Adaptif: Lingkungan belajar yang suportif memudahkan kamu untuk bertukar informasi mengenai bahasa dan konteks budaya lebih dalam.
Cuma tahu mitosnya doang nggak bakal bikin kamu jago ngobrol pas Imlek nanti kalau nggak dibarengi sama skill bahasa yang mumpuni. Kamu bisa konsultasi gratis sekarang juga buat tentuin level bahasa yang cocok. Kuàidiǎn lái (快点来)!












