Artikel ini membahas 5 kegiatan yang jadi pantangan saat merayakan imlek.
Imlek merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Tionghoa yang merayakannya. Hari raya ini tak hanya menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga mengharapkan keberuntungan di tahun yang baru.
Nah, ternyata ada pantangan yang dilakukan selama Imlek, loh! Kali ini kita akan membahas 5 kegiatan yang pantang dilakukan di hari raya ini yang dijelaskan oleh salah satu pengajar Cetta, Laoshi Angel.
Penasaran? Simak artikelnya hingga tuntas, ya!
5 Pantangan Ketika Imlek
Beberapa pantangan ketika perayaan Imlek di tiap tradisi itu berbeda-beda, sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Berikut adalah 5 kegiatan yang jangan dilakukan ketika Imlek, dirangkum dari penjelasan Laoshi Angel:
- Tidak boleh potong kuku;
- pantang menyapu rumah;
- tidak boleh memecahkan kaca;
- tidak boleh memakai pakaian gelap;
- tidak boleh menggunakan benda tajam.
Wah, kenapa ya ada pantangan seperti ini? Yuk, kita telusuri lebih dalam lagi.
Memecahkan Kaca = Menghancurkan Keberuntungan
Laoshi Angel mengatakan bahwa memecahkan benda kaca itu dilarang karena dapat menjadi pertanda kesialan.
“Itu karena kan kalau mecahin benda kaca, jadinya berserakan. Jadi, seperti keberkahan tahun barunya atau keberuntungan tahun barunya dihancurkan begitu,” pungkasnya.
Memakai Pakaian Gelap = Kedukaan
Memakai pakaian hitam putih menjadi pantangan, kata Laoshi Angel. Hal ini terjadi karena pakaian tersebut menandakan kedukaan.
“Pakaian hitam-putih itu kan berarti menandakan kedukaan ya, sebenarnya enggak dilarang, tapi kesannya menandakan lagi berduka begitu,” jelasnya.
Sebab, biasanya masyarakat Tionghoa ketika berkabung akan menggunakan pakaian warna hitam dan putih saja selama masa berkabung yang bisa hitungan tahun.
Menggunakan Benda Tajam = Memotong Keberuntungan Hidup
Ketika perayaan Imlek menurut Laoshi Angel umumnya masyarakat Tionghoa akan menghindari penggunaan benda tajam, baik itu untuk memasak atau untuk berkegiatan lain.
Mengupas sesuatu menggunakan benda tajam seperti memasak, kata Laoshi Angel, dapat melambangkan keberuntungan hidupnya dipotong.
“Kalau untuk alat-alat yang tajam, seperti alat masak dan lainnya, itu nggak boleh. Karena, ketika kita mengupas sesuatu seperti masak, memotong, itu kayak melambangkan keberuntungan hidupnya dipotong untuk tahun barunya,” terangnya.
Alhasil, saat perayaan Imlek, makanan yang disajikan biasanya menggunakan bahan baku utuh.
“Makanya kalau imlek itu apalagi kalau sembahyang segala macam masaknya, itu ayam utuh. Seperti kepala ayam juga ikut dimasak. Jadi, mereka menghindari yang butuh dipotong,” tutupnya.
Menyapu Rumah = Menyapu Keberuntungan dan Rezeki
Biasanya orang Tionghoa yang merayakan Imlek, akan melakukan bersih-bersih secara menyeluruh baik untuk rumah maupun kebersihan diri. Nah, saat hari Imlek datang, mereka tidak boleh lagi menyapu lantai rumah.
Dipercaya bahwa tindakan menyapu rumah, dapat “menyapu” keberuntungan dan rezeki yang akan datang. Karena pada saat Imlek, seluruh umat Tionghoa akan menyambut Dewa Rezeki atau Cai Shen (财神). Alhasil, tindakan menyapu rumah (扫地, sǎo dì) dianggap tidak sopan karena dapat secara tidak langsung ikut mengusir keberadaan Cai Shen dengan segala hal yang akan dibuang.
Untuk itu, kegiatan menyapu ini akan dilakukan kembali setelah lewat beberapa hari dari Imlek hari pertama.
Memotong Kuku dan Rambut = Membuang Bagian Diri/Rezeki
Masih berkaitan dengan yang sudah kita bahas di atas, kegiatan memotong kuku dan juga rambut, tidak boleh dilakukan di hari Imlek.
Alasannya, di dalam tradisi Tionghoa, Tahun Baru Imlek adalah momen untuk menarik keberuntungan, rezeki, dan kebahagiaan selama 1 tahun. Dengan memotong kuku (atau rambut) dianggap sebagai tindakan “membuang bagian dari diri,” yang secara simbolis bisa diartikan sebagai “membuang keberuntungan” atau “membuang rezeki” di awal tahun.
Alhasil, kegiatan membersihkan diri dilakukan jauh hari sebelum Imlek, sebagai persiapan diri untuk menyambut tahun baru yang penuh keberuntungan dan kebahagiaan.
Kesimpulan
Nah, itulah alasan dari semua larangan yang dianjurkan. Perlu diingat bahwa ini didasarkan oleh kepercayaan saja, Cetz. Jadi, tidak semua orang Tionghoa memegang teguh aturan ini, terutama di zaman sekarang.
Namun, bagi mereka yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan tradisi, larangan seperti ini tetap dihormati. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan ajaran leluhur.
Perdalam Budaya Tionghoa dengan Belajar di Cetta Mandarin!
Cetz, mempelajari budaya Tionghoa kurang lengkap jika tidak dibarengi dengan belajar bahasa Mandarin, loh! Nah, Cetta Mandarin bisa membantu kamu untuk mendalami bahasa Mandarin dengan baik.
Kamu bisa join kelas Chuji Shang Private, yang mempelajari materi HSK 1 atau setara dengan pelajaran dasar bahasa Mandarin.
Kabar baiknya, kamu bisa dapatkan diskon 10% untuk daftar kelas dengan memasukkan kode BACACETTAUPDATES.
Ingin tanya-tanya soal kelas ini atau kelas lainnya? Konsultasi gratis dengan Cetta, sekarang!










