Siapa nih yang sering baper saat nonton adegan pernikahan di drakor? Mulai dari gaun yang anggun sampai prosesi yang terlihat elegan dan sakral, budaya nikah di Korea memang selalu menarik untuk dikulik.
Tapi tahukah Cetz? Di balik kemegahan tradisi pernikahan Korea Selatan, ada banyak tradisi yang sarat simbol dan filosofi mendalam. Oleh sebab itu, Cetta Korean sudah merangkum 10 budaya nikah yang terbagi dalam tiga fase utama.
Gak cuma itu, Cetz juga akan menemukan rekomendasi kelas bahasa Korea dari Cetta Korean yang bisa menambah wawasanmu terkait budaya Korea. Yuk, kita bahas satu per satu!
Fase Pra-Nikah: Persiapan & Seserahan
Dalam budaya nikah di Korea, fase pra-nikah menjadi simbol penghormatan antar keluarga. Ada lima tahapan utama yang paling sering dibahas:
1. Euihon (의혼) – Tahap Perkenalan & Diskusi
Euihon adalah tahap paling awal dalam budaya nikah di Korea, di mana kedua keluarga mulai mendiskusikan rencana pernikahan secara serius. Pada zaman dahulu, tahap ini sering berupa perjodohan melalui perantara keluarga.
Namun di era modern bentuknya lebih ke acara Sang-gyeon-nye, yaitu pertemuan resmi kedua orang tua di restoran formal untuk saling mengenal.
Nah, kegiatan ini biasanya dilakukan untuk memastikan latar belakang, nilai keluarga, serta kesepakatan kedua belah pihak sebelum dua keluarga resmi dipersatukan.
2. Napchae (납채) – Penentuan Hari Baik
Pada tahap ini, keluarga menentukan tanggal pernikahan berdasarkan Saju (empat pilar takdir kelahiran). Keluarga pria mengirimkan dokumen berisi Saju (tanggal dan waktu lahir pengantin pria berdasarkan kalender lunar) kepada keluarga wanita.
Dari data tersebut, keluarga wanita akan mencari Taek-il atau hari baik untuk menikah, biasanya melalui peramal atau ahli filosofi tradisional.
Dalam budaya nikah di Korea, pemilihan hari yang tepat dipercaya dapat membawa keberuntungan dan menghindarkan pasangan dari nasib buruk di masa depan.
3. Yedan (예단) – Hadiah untuk Keluarga Pria
Yedan sering dianggap sebagai tahap yang cukup besar secara finansial, terutama bagi pihak pengantin wanita. Pasalnya, pihak wanita harus memberi hadiah yang bernilai tinggi. Ada yang dikenal sebagai “Tiga Barang Mewah”, yaitu:
- Ibul (bedding atau sprei sutra)
- Ban-sang-gi (set alat makan perak)
- Eun-su-jeo (sendok perak)
Tradisi ini melambangkan rasa hormat dan kesungguhan dari pihak wanita kepada keluarga calon suami.
4. Yemul (예물) – Hadiah Antar Mempelai
Berbeda dari yedan, yemul adalah pertukaran hadiah pribadi antara calon suami dan istri. Biasa berupa cincin, perhiasan, atau barang mewah sebagai simbol ikatan cinta.
Yemul sendiri melambangkan ikatan personal antara dua individu sebelum mereka resmi tampil sebagai pasangan suami-istri di hadapan keluarga dan publik.
5. Ham (함) – Prosesi Seserahan
Dalam prosesi ini, teman-teman mempelai pria akan disuruh membawa kotak seserahan (ham) ke rumah mempelai wanita.
Prosesi ini sering dibuat meriah dan lucu, bahkan ada yang mengenakan topeng sambil bercanda meminta “uang tebusan” secara simbolis. Tradisi ini menciptakan suasana hangat dan penuh kegembiraan sebelum hari pernikahan.
Fase Upacara Utama (Honrye / 혼례)
Upacara tradisional Korea memiliki banyak prosesi kecil, tetapi ada beberapa ritual yang paling ikonik dan penuh makna filosofis, yaitu:
1. Jeonanrye (전안례) – Penyerahan Angsa Kayu
Sebelum pengantin pria masuk ke pelaminan, ia melakukan prosesi ini kepada calon ibu mertuanya.
Pada upacara ini, pengantin pria membawa patung angsa kayu yang dibungkus kain berwarna-warni, lalu meletakkannya di atas meja dan membungkuk sebagai tanda hormat.
Angsa (Kireogi) dikenal sebagai hewan yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Dengan memberikan angsa ini, pengantin pria berjanji kepada ibu mertuanya bahwa ia akan mencintai istrinya dengan setia sampai maut memisahkan.
2. Gyobaerye (교배례) – Saling Membungkuk
Di momen ini, untuk pertama kalinya kedua mempelai saling berhadapan secara resmi di depan meja upacara.
Mempelai pria dan wanita berdiri di sisi berlawanan dari meja besar. Mereka kemudian saling membungkuk sangat rendah (sujud) satu sama lain.
Ritual ini melambangkan rasa hormat yang mendalam dan janji komitmen antar pasangan. Membungkuk rendah menunjukkan bahwa mereka saling merendahkan hati untuk membangun kehidupan bersama.
3. Hapgeunrye (합근례) – Ritual Minum dari Labu
Mempelai meminum minuman keras tradisional (biasanya soju) dari cangkir kecil. Uniknya, cangkir tersebut harus terbuat dari satu buah labu yang dibelah menjadi dua bagian.
Maknanya, upacara ini melambangkan bahwa pria dan wanita yang lahir terpisah, kini telah kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Sweet banget, ya?
Setelah menikah, kamu juga perlu membaca lagi tentang panggilan keluarga dalam bahasa Korea agar mengetahui aturan kesopanannya, ya!
Fase Pasca-Nikah (Ritual Keluarga & Transisi Sosial)
Setelah pernikahan dinyatakan sah, masih ada beberapa ritual penting yang memperkuat hubungan keluarga. Berikut rangkuman yang akan Cetta Korean bahas:
Pyebaek (폐백) – Penghormatan kepada Keluarga Pria
Pyebaek adalah ritual paling ikonik dalam budaya nikah di Korea. Biasanya dilakukan di ruangan khusus setelah upacara modern selesai.
Pengantin wanita melakukan sujud formal (jeol) kepada orang tua dan anggota keluarga senior pihak pria. Di momen ini, mertua melemparkan kurma (jujube) dan kastanye ke kain yang dipegang pengantin wanita.
Sinheonhaeng (신혼여행) – Bulan Madu
Di Korea, Honeymoon atau bulan madu adalah bagian yang sangat krusial dan dianggap sebagai transisi resmi dari kehidupan lajang ke pernikahan. Banyak pasangan Korea langsung berangkat honeymoon sehari setelah acara selesai.
Chin Jeong Bangmun (친정 방문) – Kunjungan ke Rumah Pengantin Wanita
Setelah kembali dari bulan madu, pasangan mengunjungi rumah orang tua pengantin wanita terlebih dahulu.
Pengantin pria biasanya membawa hadiah seperti daging berkualitas tinggi (gogi) untuk mertuanya.
Momen ini melambangkan bahwa sang suami secara resmi “menjemput” istrinya dari keluarga asalnya dan meminta restu terakhir sebelum memulai kehidupan baru secara mandiri.
Selain budaya, kamu juga bisa belajar bahasa Korea lewat drakor dengan tips seru ala Cetta Korean ini!
FAQ Seputar Budaya Nikah di Korea
Q: Apakah semua orang Korea masih menjalankan tradisi lengkap ini?
A: Tidak selalu. Banyak pasangan modern hanya mengambil beberapa ritual simbolis saja.
Q: Apa perbedaan Yedan dan Yemul?
A: Yedan untuk keluarga besar pria, sedangkan Yemul adalah hadiah pribadi antar pasangan.
Q: Mengapa memilih hari baik sangat penting?
A: Karena dalam kepercayaan tradisional, hari yang tepat dipercaya membawa keberuntungan jangka panjang.
Biar makin tertarik belajar bahasa Korea, coba deh baca artikel belajar bahasa Korea itu mudah yang sudah dibahas Cetta Korean sebelumnya!
Saatnya Belajar Lebih Dalam Bersama Cetta Korean
Kalau kamu tertarik memahami budaya nikah di Korea sekaligus ingin fasih berbahasa Korea, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai belajar bersama Cetta Korean.
Kamu bisa memulai dari kelas Chogeup 1 untuk membangun fondasi dasar tata bahasa dan kosakata, lalu melanjutkan ke kelas Chogeup 2 agar semakin percaya diri memahami percakapan formal, termasuk istilah budaya dan tradisi pernikahan.
Di kelas ini, kamu akan mendapatkan:
- Materi terstruktur sesuai level
- Latihan speaking & listening intensif
- Pembahasan budaya Korea yang aplikatif
- Pembahasan grammar dasar hingga menengah secara bertahap
- Pendampingan belajar yang konsisten dari mentor berpengalaman
Yuk, upgrade skill bahasa Koreamu sekarang juga bersama Cetta Korean dan temukan kelas yang cocok untukmu lewat WhatsApp admin Cetta Korean.
Rasakan pengalaman belajar yang bukan cuma fokus grammar, tapi juga kaya insight budaya!












