Artikel ini membahas arti kata lokapasar yang kini mulai sering digunakan di media Indonesia sebagai padanan dari marketplace. Kamu akan memahami maknanya, alasan kenapa istilah ini mulai dipakai, serta bagaimana perbedaan konteks penggunaannya di kalangan netizen dan media.
Nah, ternyata ada alasan menarik di balik munculnya istilah lokapasar yang mulai dipakai media, sementara di dunia nyata atau medsos, orang tetap lebih nyaman bilang marketplace. Yuk, kita bahas biar kamu nggak salah paham lagi, Cetz!
Kalo kamu ingin membahas hal ini di komunitas bahasa, bisa gabung di Cetta Virtual Society secara gratis, di mana kamu bisa membahas apa pun tentang bahasa. Di artikel ini, kamu akan menemukan jawabannya. Yuk, kita bahas sama-sama biar kamu nggak bingung lagi antara lokapasar dan marketplace!
Apa Itu Lokapasar?
Kalau kamu mencari kata lokapasar di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya cukup jelas yaitu pasar daring tempat penjual dan pembeli melakukan transaksi secara digital.
Secara etimologis, kata ini berasal dari dua unsur bahasa Sanskerta dan Indonesia:
- Loka berarti tempat atau dunia,
- Pasar berarti tempat jual beli barang atau jasa.
Kalau digabung, jadilah lokapasar, yang secara sederhana bisa dimaknai sebagai tempat jual beli di dunia digital. Jadi, saat kamu membuka Tokopedia, Shopee, atau Lazada, sebenarnya kamu sedang berkunjung ke lokapasar!
Menariknya, istilah ini mulai diperkenalkan sebagai padanan resmi dari kata “marketplace”. Pemerintah melalui Badan Bahasa mendorong penggunaan istilah yang lebih sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia agar kosakata kita makin kaya dan tidak sepenuhnya bergantung pada istilah asing.
Sebagai contoh, beberapa media besar di Indonesia kini mulai memakai istilah ini dalam berita mereka:
“Transaksi di lokapasar meningkat menjelang Harbolnas,” tulis salah satu media nasional.
Nah, dari sini kamu bisa lihat bahwa lokapasar bukan sekadar kata baru, tapi juga bagian dari upaya memperkuat identitas bahasa Indonesia di era digital.
Kalau kamu tertarik memahami bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti zaman termasuk istilah-istilah digital seperti ini kamu juga bisa baca artikel Apa Itu Online Course dan Manfaat Ikut Kursus Bahasa Asing Online di Cetta. Di sana dibahas bagaimana dunia digital mengubah cara kita belajar, termasuk belajar bahasa.
Kenapa Media Mulai Menggunakan Istilah Ini?
Pernah perhatikan kenapa akhir-akhir ini media lebih sering menulis kata lokapasar dibanding marketplace? Karena media berusaha mengikuti anjuran Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) agar istilah asing punya padanan yang sesuai dalam bahasa Indonesia.
Tujuannya bukan untuk “melarang” penggunaan bahasa Inggris, tapi supaya bahasa Indonesia tetap hidup, relevan, dan berdaulat di era digital. Bayangkan kalau semua istilah dalam berita diganti dengan bahasa asing, lama-lama pembaca bisa kehilangan kedekatan dengan bahasanya sendiri, kan?
Penggunaan istilah seperti lokapasar, gawai (gadget), atau pranala (link) juga bagian dari upaya memodernisasi bahasa Indonesia tanpa meninggalkan identitasnya. Dengan begitu, bahasa Indonesia bisa tetap digunakan dalam konteks teknologi, bisnis, dan komunikasi global, sama seperti bahasa Inggris atau Mandarin yang terus berkembang.
Kenapa Netizen Lebih Sering Pake “Marketplace”, Bukan “Lokapasar”?
Meskipun media mulai rutin menggunakan istilah lokapasar, di dunia nyata atau di media sosial kamu pasti lebih sering dengar orang bilang marketplace. Bener, kan?
Alasannya istilah marketplace sudah lebih dulu dikenal di ranah digital. Sejak awal kemunculan platform e-commerce di Indonesia, istilah inilah yang digunakan oleh aplikasi, iklan, hingga konten kreator. Akibatnya, kata marketplace sudah melekat dalam keseharian kita, terutama di kalangan anak muda dan pengguna internet.
Selain itu, penggunaan marketplace dianggap lebih praktis dan “global”. Ketika kamu bilang marketplace, orang dari negara mana pun bisa langsung paham maksudnya. Sedangkan kata lokapasar masih terasa baru dan formal, lebih cocok digunakan di media, tulisan akademik, atau konteks resmi.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan bagaimana bahasa bekerja di masyarakat yaitu media berperan menjaga bahasa agar sesuai kaidah dan netizen menggunakan bahasa yang paling cepat dipahami dan terasa alami.
Jadi, keduanya sebenarnya tidak salah cuma berbeda konteks. Justru di sinilah menariknya belajar bahasa di era digital, kamu belajar bukan hanya arti kata, tapi juga bagaimana dan kapan kata itu digunakan.
Belajar Bahasa Inggris yang Nyambung Sama Dunia Kamu
Kalau kamu mau belajar bahasa Inggris dengan pendekatan yang menekankan konteks komunikasi sehari-hari dari ngobrol santai, diskusi, sampai public speaking kamu bisa ikut kelas Speaking Rigel Weekday di Cetta.
Masih bingung mau mulai dari mana? Langsung aja chat tim Cetta lewat WhatsApp buat konsultasi gratis dan cari tahu kelas yang paling cocok buat kamu ya Cetz!
Belajar bahasa itu bukan sekadar teori tapi soal gimana kamu bisa connect dengan dunia lewat kata-kata. Mulai perjalanan bahasamu bareng Cetta hari ini!










