Di artikel ini, kita bakal bongkar 7 langkah bikin jadwal belajar bahasa asing yang bisa langsung kamu praktikkan. Plus, Cetta kasih juga template 1 bulan biar lebih gampang kamu tiru.
Meski kamu udah semangat 45 belajar bahasa asing, tapi seminggu kemudian mood-nya langsung drop, kenapa ya? Entah karena jadwalnya terlalu padat, atau malah nggak punya rencana sama sekali. Akhirnya, buku catatan dan aplikasi belajar jadi penghuni tetap laci, deh.
Padahal, kuncinya bukan soal pinter atau nggak pinter, tapi gimana cara nyusun jadwal belajar yang realistis dan konsisten. Dengan perencanaan yang pas, kamu bisa tetap maju meski waktunya terbatas.
Kalau kamu masih bingung bahasa asing mana dulu yang mau dipelajari, kamu bisa cek juga artikel cara menentukan bahasa asing pertama untuk dipelajari biar lebih mantap arahnya. Tapi kalau masih bingung bagaimana jadwalnya, kamu bisa konsultasi gratis sama tim Cetta lewat WhatsApp.
Yuk mari kita bahas 7 cara menyusun jadwal belajar bahasa asing!
1. Tentukan Tujuan Belajar yang Jelas
Sebelum bikin jadwal, kamu perlu tahu dulu “belajar buat apa”. Tujuan ini jadi kompas utama biar kamu nggak bingung arah. Tanpa tujuan, jadwal belajar bakal gampang berantakan karena nggak ada target yang jelas.
Contohnya:
- “Aku mau bisa percakapan dasar bahasa Korea dalam 3 bulan.”
- “Aku mau lulus JLPT N5 akhir tahun ini.”
- “Aku mau bisa presentasi pakai bahasa Inggris di kantor.”
Dengan tujuan spesifik, kamu bisa lebih mudah nentuin durasi, materi, sampai metode belajar yang paling pas. Plus, motivasimu juga jadi lebih kuat karena ada “alasan besar” yang bikin kamu tetap konsisten.
Tips dari Cetta: coba tulis tujuanmu di sticky note atau di cover buku catatan belajar. Jadi setiap kali kamu hampir males belajar, kamu bakal diingatkan lagi “kenapa aku mulai.”
2. Kenali Waktu Luang Harianmu
Banyak Cetz yang gagal konsisten bukan karena malas, tapi karena jadwal belajarnya nggak nyambung sama rutinitas sehari-hari. Makanya, penting banget buat ngulik dulu kapan kamu punya waktu senggang.
Caranya gampangnya yaitu coba catat aktivitas harianmu selama 2–3 hari. Dari situ kamu bakal tahu, misalnya:
- Pagi hari sebelum berangkat kuliah/kerja ada 20 menit lowong.
- Malam sebelum tidur ada slot 15 menit.
- Weekend agak longgar, bisa dipakai buat review materi seminggu.
Ingat, belajar bahasa asing nggak perlu langsung berjam-jam. Bahkan, 15–30 menit sehari lebih efektif daripada maksa 2 jam sekaligus tapi cuma seminggu sekali.
Tips dari Cetta: kalau kamu tipe orang sibuk, mending bikin slot belajar kecil-kecil tapi sering. Ibarat olahraga, latihan ringan setiap hari lebih sehat ketimbang langsung nge-gym 3 jam tapi sebulan sekali.
3. Gunakan Metode Belajar yang Cocok
Setiap orang punya gaya belajar yang beda-beda. Ada yang lebih gampang nyerap materi lewat visual (video, gambar, catatan warna-warni), ada juga yang lebih cocok lewat audio (podcast, musik, rekaman). Bahkan ada yang kinestetik, alias lebih paham kalau langsung praktik dan bergerak.
Kalau metode belajar yang dipakai nggak sesuai sama gaya belajarmu, hasilnya sering jadi gampang bosan dan akhirnya berhenti di tengah jalan. Jadi, kenali dulu cara belajarmu yang paling nyaman.
Nah, kalau kamu pengen ide-ide segar biar belajar nggak monoton, coba deh cek artikel 16 teknik belajar bahasa asing ala Cetta. Di sana ada banyak trik seru yang bisa kamu kombinasikan sesuai kebutuhanmu.
Tips dari Cetta: jangan terpaku satu metode aja. Kadang belajar dari film bisa dikombinasikan dengan nulis ulang kosakata di jurnal, atau ngobrol singkat sama teman. Variasi bikin otak kamu lebih terlatih dan belajar jadi nggak monoton.
4. Pilih Platform atau Media yang Tepat
Belajar bahasa asing itu kayak olahraga, kalau medianya nggak cocok, hasilnya bisa kurang maksimal. Ada banyak pilihan media yang bisa kamu manfaatkan, misalnya:
- Buku & modul. Cocok buat kamu yang suka struktur rapi.
- Aplikasi belajar. Pas buat belajar kilat di sela-sela waktu.
- Podcast & lagu. Melatih listening sekaligus bisa sambil santai.
- Film & video YouTube. Bikin kamu terbiasa dengan aksen asli penutur.
- Kursus online. Ada mentor yang bisa ngarahin sesuai kebutuhanmu.
Nah, kalau kamu masih ragu apakah kursus online bisa cocok dengan gaya belajarmu, kamu bisa baca artikel Apakah Belajar Bahasa Asing Secara Online Cocok Buat Kamu?. Dari situ kamu bisa menimbang kelebihan dan kekurangannya.
Tips dari Cetta: pilih 2–3 media utama biar fokus, jangan semua dicoba sekaligus. Misalnya, aplikasi + video + kursus online. Dengan begitu, belajar lebih terarah dan nggak bikin pusing.
5. Buat Jadwal Harian & Mingguan yang Fleksibel
Bikin jadwal belajar itu penting, tapi jangan sampai jadwalnya kaku kayak batu. Kalau terlalu ketat, sekali aja kamu kelewat belajar, mood bisa langsung drop. Makanya, jadwal yang fleksibel jauh lebih sehat buat jangka panjang.
Contoh jadwal harian sederhana:
- Pagi (10–15 menit): review kosakata kemarin.
- Siang (20 menit): baca artikel pendek atau dengar podcast bahasa asing.
- Malam (15 menit): latihan speaking atau nulis jurnal singkat.
Contoh jadwal mingguan:
- Senin–Jumat: fokus materi inti (kosakata, grammar, listening).
- Sabtu: latihan praktis (nonton film, ngobrol sama teman, ikut kelas).
- Minggu: istirahat atau review ringan.
Tips dari Cetta: jadwal belajar itu kayak playlist musik. Kalau terlalu monoton, bisa bikin bosan. Jadi selipkan variasi kecil biar tetap segar, misalnya ganti podcast dengan video, atau ganti nulis kosakata dengan bikin flashcard digital.
6. Evaluasi & Sesuaikan Secara Berkala
Jadwal belajar itu bukan kontrak mati yang nggak boleh diubah. Justru, kamu perlu evaluasi rutin supaya tahu apakah rencananya udah sesuai atau malah bikin kewalahan.
Coba lakukan evaluasi tiap 2 minggu atau sebulan sekali:
- Apakah kamu bisa konsisten mengikuti jadwal?
- Bagian mana yang terasa terlalu berat atau malah terlalu mudah?
- Apakah tujuan belajarmu masih relevan?
Kalau ternyata target terlalu tinggi, jangan sungkan buat menyesuaikan. Misalnya awalnya target belajar 1 jam tiap hari terasa mustahil, turunkan jadi 20–30 menit. Yang penting realistis dan berkelanjutan.
Tips dari Cetta: catat progres kecilmu, seperti jumlah kosakata baru yang dipelajari atau durasi listening yang berhasil kamu selesaikan. Progres kecil ini bisa jadi motivasi besar untuk lanjut.
7. Jangan Lupa Istirahat & Reward Diri
Belajar bahasa asing itu maraton, bukan sprint. Jadi, jangan lupa kasih diri kamu waktu buat istirahat. Kalau otak terus dipaksa tanpa jeda, hasilnya malah gampang capek dan bosen.
Kamu bisa bikin jadwal “rest day” sekali seminggu tanpa belajar intensif. Bukan berarti berhenti total, tapi cukup aktivitas ringan seperti:
- Dengerin musik dalam bahasa target.
- Nonton film tanpa subtitle.
- Scroll media sosial pakai akun bahasa asing.
Selain istirahat, kasih juga reward kecil setiap kali berhasil konsisten. Misalnya, setelah 2 minggu rutin belajar, traktir diri sendiri dengan kopi favorit, atau setelah sebulan, beli buku/film dalam bahasa yang sedang kamu pelajari. Reward ini bikin otak lebih semangat karena merasa “usaha gue dihargai.”
Tips dari Cetta: jangan merasa bersalah kalau sehari terlewat. Yang penting kamu balik lagi ke jalur, bukan malah berhenti total.
Template/Contoh Jadwal Belajar Bahasa Asing dalam 1 Bulan
Biar lebih kebayang, ini contoh jadwal belajar bahasa asing yang bisa kamu tiru. Ingat, ini bukan aturan kaku, tapi panduan fleksibel yang bisa kamu sesuaikan sama rutinitas dan tujuan belajarmu.
Minggu 1: Fondasi Dasar
- Hari Senin–Jumat: 20 menit belajar kosakata dasar (angka, salam, perkenalan).
- Hari Sabtu: dengarkan podcast/video singkat dalam bahasa target.
- Hari Minggu: review kosakata + catat 5 kata favorit minggu ini.
Minggu 2: Tambah Listening & Reading
- Hari Senin–Jumat: 15 menit kosakata + 15 menit listening (lagu/podcast).
- Hari Sabtu: baca artikel/komik/teks pendek dalam bahasa target.
- Hari Minggu: review + coba tulis 3 kalimat sederhana.
Minggu 3: Mulai Speaking & Writing
- Hari Senin–Jumat: 10 menit kosakata + 20 menit speaking (ngomong sendiri atau voice note dengan teman).
- Hari Sabtu: tulis jurnal harian sederhana (3–5 kalimat).
- Hari Minggu: review + koreksi tulisanmu.
Minggu 4: Integrasi & Evaluasi
- Hari Senin–Jumat: kombinasi kosakata, listening, dan speaking (total 30–40 menit).
- Hari Sabtu: simulasi percakapan (pakai aplikasi/teman).
- Hari Minggu: evaluasi progres, apa yang udah lancar, apa yang masih susah.
Tips dari Cetta: lebih baik konsisten 20–30 menit tiap hari daripada maksa belajar lama tapi jarang. Kalau jadwalmu padat, fokus aja di 1 skill utama dulu (misalnya listening), baru tambah skill lain setelah lebih stabil.
Belajar Bahasa Itu Maraton, Bukan Sprint
Nah, Cetz, ternyata bikin jadwal belajar bahasa asing itu nggak serumit yang dibayangin, kan? Kuncinya ada di realistis dan konsisten.
Mulai dari nentuin tujuan, nyari waktu luang, milih metode yang pas, sampai kasih reward buat diri sendiri, semuanya bakal bikin perjalanan belajarmu lebih terarah dan nggak gampang kandas di tengah jalan.
Ingat ya belajar bahasa itu proses jangka panjang. Jadi, jangan buru-buru pengen langsung mahir. Yang penting kamu jalan terus, meski pelan. Karena dengan langkah kecil yang konsisten, hasilnya bisa jauh lebih besar daripada target muluk tapi berhenti di tengah.
Kalau kamu pengen punya jadwal belajar yang disesuaikan sama kesibukanmu, plus dibimbing langsung sama mentor Cetta, jangan ragu untuk ngobrol sama tim kami lewat WhatsApp Cetta.
Siap mulai konsisten bareng Cetta, Cetz?









