Jakarta, 8 Maret 2026 — Cetta Virtual Society menggelar Kajian Ramadan bertajuk “Ramadhan Reset: Kuatin Mental Lewat Sabar dan Bersyukur” pada Minggu (8/3) secara daring. Kegiatan yang dimulai pukul 16.20 WIB ini dipandu oleh MC Alifah dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah.
Acara dibuka dengan sesi ice breaking bertajuk Tebak-Tebak Ramadan. Dalam sesi ini, peserta diajak berinteraksi melalui berbagai pertanyaan seputar bulan Ramadan, mulai dari makna bulan Sya’ban hingga alasan Ramadan sering disebut sebagai waktu terbaik untuk melakukan reset mental.
Memasuki sesi kajian utama, materi disampaikan oleh Muhammad Alief S. Muslih, salah satu murid Cetta yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, jurusan Hukum.
Dalam pemaparannya, Muslih menjelaskan bahwa tema sabar dan syukur dipilih karena keduanya merupakan konsep penting dalam ilmu akidah dan tasawuf sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah.
“Gampangnya, dari setiap jalan menuju Allah, sabar dan syukur ini adalah yang paling mendekatkan. Dalam menghadapi kehidupan ini dan berbagai kabar baik maupun buruk yang kita dengar, sabar dan syukur adalah kunci,” ujar Muslih.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan, manusia akan selalu menghadapi berbagai kondisi yang silih berganti. “Ketika hidup sedang terasa baik, kita bersyukur. Ketika sedang tidak baik, kita bersabar,” lanjutnya.
Menurut Muslih, bulan Ramadan menjadi momentum yang tepat bagi umat Muslim untuk melakukan reset mental. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan manusia terbentuk dari aktivitas yang dilakukan berulang kali dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Islam, ritme kehidupan tersebut juga ditandai dengan waktu-waktu salat yang membentuk pola aktivitas umat Muslim.
“Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki kebiasaan dan memulai rutinitas yang lebih baik,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, Muslih juga menyinggung fenomena meningkatnya permasalahan kesehatan mental yang dialami oleh banyak kalangan, termasuk anak muda. Ia menegaskan bahwa gangguan mental dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang.
Ia menekankan bahwa dalam Islam, manusia diajarkan untuk menghadapi berbagai peristiwa kehidupan dengan sikap sabar dan syukur. Muslih menjelaskan bahwa di dalam Islam kita diajarkan untuk bersabar dan bersykur atas semua kejadian yang menimpa kita.
Ia menyampaikan ”Saya pernah diajarkan oleh dosen saya dulu, الفَهْمُ الصَّحِيحُ يُؤَدِّي إِلَى العَمَلِ
al-fahmu aṣ-ṣaḥīḥu yu’addī ilā al-‘amal, jadi pemahaman yang benar itu bisa mengarahkan kepada perbuatan”
Lebih lanjut, Muslih menjelaskan bahwa rasa syukur memiliki tiga unsur utama, yaitu menyadari kemurahan hati dari pemberi nikmat, merasa senang atas nikmat tersebut, serta menggunakan nikmat itu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan pemberinya.
Dengan demikian, syukur bukanlah sikap pasif, melainkan tindakan aktif dalam memanfaatkan amanah yang diberikan.
Ia juga mengutip sebuah ungkapan yang sering ia dengar selama masa studinya, yaitu “مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ (man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu)” yang berarti “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
Menurutnya, mengenal diri sendiri menjadi langkah penting bagi seseorang untuk memahami hubungannya dengan Tuhan.
Sesi kajian kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama peserta. Salah satu peserta, Gamel, menanyakan cara mengelola waktu agar tidak terlalu banyak menggunakan media sosial selama bulan Ramadan.
Menanggapi hal tersebut, Muslih menyarankan peserta untuk mulai mengatur pembagian waktu secara seimbang antara pekerjaan, ibadah, dan istirahat.
“Salah satu trik saya untuk khatam Al-Qur’an adalah dengan membaca lima halaman setiap selesai satu waktu salat,” ujarnya.
Pertanyaan lain datang dari peserta bernama Faiz yang menanyakan tentang kesiapan menikah di usia 24 tahun. Menanggapi hal tersebut, Muslih menyampaikan bahwa pernikahan dapat disegerakan apabila seseorang telah siap secara mental, finansial, serta mendapatkan dukungan dari keluarga.
Melalui kajian ini, anggota Cetta Virtual Society diajak untuk memaknai Ramadan bukan hanya sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai momentum memperbaiki diri, memperkuat mental, serta membangun kebiasaan baik melalui sikap sabar dan syukur.










