Acara seperti festival dapat menarik perhatian orang lain, seperti dua festival di Cina yang mungkin kamu belum tahu, Cetz.
Festival biasanya diadakan sebagai hari untuk berkumpul atau memperingati suatu hal.
Tutor Cetta Mandarin, Laoshi Xiulian, menyebutkan ada dua jenis festival sebagai bentuk budaya Cina yang selalu diadakan.
Sebagai informasi, Laoshi ini merupakan orang Indonesia keturunan Chinese, namun keluarganya tidak mengadakan budaya lain kecuali Hari Raya Imlek.
Ia bercerita kalau saat Imlek, keluarganya membuat pempek sebagai kudapan. Kamu keturunan Chinese juga? Biasanya mengadakan festival apa, nih?

Festival di Cina yang Menarik Menurut Laoshi Xiulian
Laoshi Xiulian menyebutkan ada dua festival di Cina yang menurutnya sangat menarik. Apa saja itu? Yuk simak di bawah ini.
1. Zhongqiu Jie
Mengutip Mandarin Translate, Zhongqiu Jie atau Festival Musim Gugur biasa disebut juga Festival Kue Bulan.
Festival tersebut diadakan dalam rangka merayakan hari raya panen.
Zhongqiu Jie dilaksanakan bulan September minggu kedua sampai Oktober minggu kedua.
Tepatnya, Zhongqiu Jie diadakan pada tanggal 15 di bulan 8 menurut kalender China.
Acara yang diadakan biasanya berupa kumpul bersama keluarga sambil menyantap kue bulan di malam hari saat bulan menerangi bumi.
Awal mula festival ini diadakan adalah adanya perayaan untuk memberikan persembahan kepada dewi bulan.
Pada zaman dahulu, orang-orang di Cina menentukan waktu bercocok tanam berdasarkan pergerakan bulan.
Maka dari itu, ketika panen, sebagai salah satu bentuk syukur, diadakanlah festival ini.
2. Qingming Jie
“Qingming Jie yaitu ziarah ke kuburan untuk menghormati, mendoakan kerabat yang sudah meninggal,” ungkap Laoshi.
Festival Cina yang satu ini tidak hanya dilaksanakan di negara Cina, tetapi juga di Indonesia.
National Geographic membahas kalau festival ini disebut juga hari menyapu makam karena kegiatan yang dilakukan saat acara berlangsung adalah membersihkan makam leluhur.
Selain membersihkan makam, orang-orang biasanya membuat sesajen dan berjalan-jalan di alam.
Festival ini dilakukan dalam rangka menghormati leluhur.
3. Sisters’ Meal Festival
Sisters’ Meal Festival merupakan festival tradisional yang dirayakan oleh suku Miao di wilayah Guizhou, China. Festival ini sering disebut sebagai Hari Valentine-nya masyarakat Miao karena menjadi momen bagi para gadis untuk menunjukkan ketertarikan mereka kepada pria yang disukai
Dalam perayaan ini, para gadis akan menyiapkan nasi berwarna-warni yang disebut “sisters’ meal.” Nasi ini tidak hanya cantik secara visual, tetapi juga mengandung pesan tersembunyi.
Selain itu, festival ini juga diramaikan dengan tarian tradisional, nyanyian, serta pakaian adat khas Miao yang penuh warna.
4. Duanwu Jie
Duanwu Jie atau yang dikenal sebagai Festival Perahu Naga, dirayakan setiap tanggal 5 bulan ke-5 dalam kalender lunar China. Festival ini memiliki akar sejarah yang kuat, terutama untuk mengenang penyair patriotik Qu Yuan yang hidup pada masa Negara-Negara Berperang.
Salah satu tradisi paling ikonik dari Duanwu Jie adalah lomba perahu naga. Perahu panjang dengan kepala naga ini didayung secara serempak oleh tim, menciptakan suasana yang meriah dan penuh semangat.
Selain itu, masyarakat juga mengonsumsi zongzi, yaitu ketan yang dibungkus daun bambu dengan berbagai isian seperti daging atau kacang.
5. Laba Jie
Laba Jie adalah festival yang dirayakan pada hari kedelapan bulan ke-12 kalender lunar. Festival ini memiliki makna spiritual yang erat kaitannya dengan ajaran Buddha, khususnya dalam memperingati pencerahan Siddhartha Gautama.
Tradisi utama dalam Laba Jie adalah menyantap bubur Laba (Laba congee) yang terbuat dari campuran berbagai bahan seperti beras, kacang-kacangan, biji-bijian, dan buah kering. Bubur ini melambangkan kemakmuran, keberkahan, dan rasa syukur atas hasil panen sepanjang tahun.
6. Zhong Yuan Jie
Zhong Yuan Jie, atau dikenal sebagai Festival Hantu, dirayakan pada tanggal 15 bulan ke-7 kalender lunar. Festival ini didasarkan pada kepercayaan bahwa pada bulan tersebut, gerbang dunia roh terbuka dan arwah leluhur maupun roh gentayangan kembali ke dunia manusia.
Selama Zhong Yuan Jie, masyarakat melakukan berbagai ritual untuk menghormati dan menenangkan arwah. Mereka membakar kertas sembahyang, menyediakan makanan, serta menyalakan lentera sebagai panduan bagi roh agar tidak tersesat.
Meski terkesan mistis, festival ini memiliki nilai budaya yang kuat dalam hal penghormatan keluarga dan keseimbangan antara dunia manusia dan spiritual. Hingga kini, Zhong Yuan Jie tetap menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Tionghoa.

Yuk, Kenali Berbagai Festival di China bersama Cetta!
Untuk kamu yang tertarik dengan budaya Cina, mungkin bisa dicari tahu lebih lanjut soal keenam festival ini ya, Cetz.
Selain belajar budaya, kamu juga perlu belajar bahasa Mandarin agar lebih mendalami budaya China. Berminat untuk belajar bahasa Mandarin?
Cetta Mandarin adalah tempat yang tepat untuk kamu belajar bersama tutor-tutor yang jago! Selain itu, kamu juga bisa cek deretan kelas yang cocok untuk minatmu, seperti Chuji Shang Regular dari Cetta Mandarin.
Yuk, konsultasikan lebih lanjut dengan admin Cetta Mandarin lewat WhatsApp dan langsung daftar sekarang!














