Jakarta, 7 Maret 2026 – Cetta Virtual Society (CVS) kembali menggelar kegiatan Buka Bersama yang tahun ini diselenggarakan di Panti Yasni, Pasar Minggu. Lebih dari sekadar agenda silaturahmi, kegiatan ini menjadi momen bagi komunitas siswa dan tutor Cetta untuk berbagi kebahagiaan serta menghadirkan kehangatan bersama anak-anak di Panti Yasni.
Ketika Tutor dan Siswa Memilih Berbagi Waktu di Panti Yasni
Sore Ramadan di Panti Yasni, Pasar Minggu, terasa sedikit berbeda. Beberapa tutor dan siswa dari komunitas belajar bahasa datang bukan sebagai pengajar atau peserta kelas, tetapi sebagai relawan yang ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak panti.
Di antara mereka ada Asa, tutor Bahasa Jerman yang sejak awal langsung mendaftarkan diri ketika kegiatan ini diumumkan. Bagi Asa, berbuka bersama di panti bukan sekadar agenda komunitas, melainkan keinginan yang sudah lama ia dambakan. “Buka bersama di panti memang sudah lama jadi wishlist saya setiap Ramadan. Saya rindu berinteraksi dengan anak-anak,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, Asa banyak berbincang santai dengan anak-anak dan berbagi cerita tentang pengalamannya bekerja di luar negeri serta mengajar Bahasa Jerman. Cerita tersebut langsung memicu rasa ingin tahu anak-anak yang penasaran tentang kehidupan dan budaya di Jerman. Asa pun mengaku senang melihat antusiasme mereka. “Walaupun waktunya singkat, saya senang melihat mereka begitu penasaran dan berani bermimpi,” katanya.
Pengalaman yang sama berkesannya juga dirasakan oleh Dea, siswa Mandarin yang telah hampir dua tahun belajar di Cetta. Ia datang dengan ekspektasi sekadar bertemu orang baru dan mencoba pengalaman baru, namun pertemuan dengan anak-anak panti justru memberinya perspektif berbeda. “Adik-adiknya luar biasa. Masih SD tapi sudah punya cita-cita yang jelas, itu membuat saya ikut termotivasi,” ujarnya.
Dalam obrolan santai sore itu, Dea juga berbagi tentang pengalamannya belajar bahasa asing dan pentingnya kemampuan bahasa untuk masa depan. Pesan tersebut rupanya disambut antusias oleh anak-anak yang mulai penasaran dengan bahasa lain. “Saya berharap kegiatan seperti ini terus ada, supaya adik-adik di sini punya lebih banyak inspirasi tentang masa depan mereka,” kata Dea.
Percakapan yang Membuka Rasa Ingin Tahu
Bagi anak-anak Panti Yasni, kehadiran para tutor dan siswa juga menghadirkan pengalaman baru. Viki Rizki Iswandi (18), salah satu anak bina panti, mengaku senang bisa berbincang langsung dan mendengar cerita dari mereka.
Menurut Viki, interaksi tersebut membuka rasa ingin tahunya tentang banyak hal, terutama ketika mendengar pengalaman Asa yang pernah bekerja di Jerman. “Kakak-kakaknya ramah dan seru diajak ngobrol. Cerita tentang pengalaman kerja di Jerman bikin saya jadi penasaran ingin belajar Bahasa Jerman juga,” ujarnya.
Viki sendiri memiliki cita-cita menjadi dokter. Dari percakapan singkat tersebut, ia mulai melihat bahwa kemampuan bahasa asing bisa menjadi bekal penting untuk meraih mimpi yang lebih besar di masa depan.
Komunitas yang Tumbuh Bersama
Melalui kegiatan seperti ini, komunitas belajar tidak hanya menjadi ruang untuk mempelajari bahasa, tetapi juga tempat bertemunya orang-orang dari berbagai latar belakang untuk saling berbagi pengalaman dan inspirasi.
Asa merasakan hal yang sama setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, komunitas seperti ini terasa istimewa karena tidak ada batasan usia atau latar belakang bagi siapa pun yang ingin terlibat. “Di komunitas ini tidak ada batasan, semua orang bisa bergabung dan saling berbagi,” katanya.
Harapannya kegiatan serupa dapat terus dihadirkan agar semakin banyak ruang pertemuan yang membawa inspirasi, memperluas perspektif, dan menumbuhkan semangat belajar bagi lebih banyak orang.










